Dwi Jatmiko

Pendakwah

 


eduaila.com - Bagi Dwi Jatmiko, M.Pd., dosen Pendidikan Agama Islam (PAI), pendidikan agama tidak cukup dipahami sebagai proses transfer pengetahuan normatif semata. 

Lebih dari itu, Pendidikan Agama Islam merupakan ikhtiar sadar untuk menuntun peserta didik menjalani kehidupan yang selaras dengan ajaran Islam. 

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Zuhairini dan kawan-kawan yang sejak awal menegaskan bahwa PAI bertujuan membantu manusia hidup sesuai tuntunan agama.

Di ruang kelas, Dwi Jatmiko menempatkan Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah sistem yang utuh.


Sistem ini dirancang untuk membina dan mengembangkan potensi jasmani serta rohani peserta didik secara seimbang. 


Al-Qur’an dan Hadis menjadi fondasi utama, bukan hanya sebagai sumber hukum, tetapi juga sebagai pedoman etika, moral, dan cara pandang hidup. 


Pendidikan, dalam konteks ini, diposisikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya.


Namun, Dwi Jatmiko tidak berhenti pada teks. 


Ia menekankan pentingnya ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta, sebagai dasar pengembangan keilmuan Pendidikan Agama Islam. 


Menurutnya, alam bukan sekadar objek kajian sains, melainkan ruang tafakur yang memperkuat iman dan kesadaran spiritual. 


Dari fenomena alam, peserta didik diajak membaca keteraturan, keseimbangan, dan nilai tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.


Pendekatan ini dinilai relevan di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi, krisis moral, dan pergeseran nilai sosial. 


Pendidikan Agama Islam, kata Dwi Jatmiko, harus hadir sebagai jawaban, bukan sekadar pelengkap kurikulum. 


Ia perlu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, sikap moderat, serta kepekaan sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam.


Dengan mengintegrasikan Al-Qur’an, Hadis, dan ayat-ayat kauniyah, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. 


Pendidikan, pada akhirnya, menjadi jalan untuk menautkan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas peradaban.








 


 

Oleh Ust. Rachmat Agung Cahyo, S.E.

Juru Kisah Nasional

 

Manusia mulia kekasih Allah SWT pun tak pernah luput dari ujian. Bahkan, cobaan yang datang padanya mungkin lebih besar daripada apa yang kita alami saat ini. Hal itu bukan tanpa maksud: sebagai bukti keimanan sekaligus teladan bagi seluruh umat, agar darinya kita belajar bersabar dalam menghadapi setiap ujian hidup.

 

Deretan Ujian Rasulullah

 

Perjalanan hidup Rasulullah SAW tak lepas dari kesedihan karena kehilangan, bahkan sebelum Beliau lahir, saat sekitar enam bulan dalam kandungan, Ayahnya telah mendahului pergi, Wafat. Kemudian ketika berusia enam tahun, di tengah perjalanan pulang dari ziarah makam Ayah di Madinah, sekitar 35 kilo meter perjalanan, baru sampai di kota Abwa' Ibunda Aminah sakit kemudian wafat.


Selanjutnya, Beliau diasuh oleh Kakek Abdul Muthalib, dua tahun kemudian, jatah usia sang kakek yang menyayanginya sudah habis, Abdul Muthalib wafat, meninggalkan Rasulullah diwaktu masih kecil usia 8 tahun. Barulah kemudian, Pamannya, Abu Thalib yang penuh cinta menjaga dan melindungi Beliau dengan segenap hati.

 

Pada tahun kesepuluh kenabian (sekitar tahun 619 Masehi), Rasulullah kehilangan dua orang yang menjadi benteng perlindungan-Nya: Abu Thalib dan istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid RA. Kepergian kedua orang terkasih itu membuat orang-orang kafir semakin berani mengganggu Beliau, bahkan menertawakan kesedihan yang dialami oleh kekasih Allah.

 

Allah Hibur Rasulullah 

 

Di tengah kesusahan yang mendalam itu pada tahun ke dua belas setelah kenabian (sekitar tahun 622 M) Allah SWT tidak tinggal diam. Pada suatu malam di bulan Rajab, Beliau mengutus malaikat Jibril AS untuk membawa Rasulullah dalam perjalanan luar biasa – Isra' dan Mi'raj.

 

Dengan kendaraan yang kecepatannya seperti kilat bernama Buraq, Rasulullah dibawa dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana, Beliau naik meninggalkan bumi, melintasi tujuh lapis langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, menghadap Sang Pencipta.

 

Allah SWT berfirman: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra' [17]: 1)

 

Hikmah


Di dunia ini, tak ada yang kekal selain Allah SWT. Orang-orang yang kita cintai, dan mereka yang mencintai kita, pasti akan pergi meninggalkan kita – atau bahkan kita yang mendahului mereka. Namun, satu hal yang pasti: Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, selama kita tetap menyadari keberadaan-Nya dan terus mendekatkan diri pada-Nya.

 

Setelah peristiwa Isra' dan Mi'raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab, Rasulullah menjadi lebih mantap dan teguh. "Oleh-oleh" berharga dari perjalanan semalam itu adalah wahyu perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam. Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan emas untuk menghadap Allah, merasakan kehadiran-Nya yang selalu menyertai kita.

 

Mari kita berusaha menikmati setiap saat menghadap-Nya dalam sholat, dengan menyadari bahwa kita tidak pernah sendirian – Allah SWT selalu bersama kita.

 

EDUAILA.COM - Masjid bukan sekadar bangunan tempat ibadah, tetapi pusat pembinaan iman dan ketakwaan umat Islam. 


Setiap langkah kaki seorang muslim menuju masjid memiliki nilai spiritual yang tinggi di sisi Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. 


Beliau bersabda tentang amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. 


Para sahabat pun bertanya dengan penuh antusias, dan Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa amalan tersebut adalah menyempurnakan wudhu meskipun dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, serta menunggu shalat setelah melaksanakan shalat lainnya.


Hadis ini memberikan pelajaran mendalam bahwa Islam sangat menghargai kesungguhan dan pengorbanan dalam beribadah. 


Menyempurnakan wudhu dalam keadaan tidak nyaman, seperti cuaca dingin atau kondisi lelah, melatih keikhlasan dan kesabaran. 


Wudhu bukan sekadar membersihkan anggota badan, tetapi juga membersihkan dosa dan menyiapkan hati untuk menghadap Allah SWT.


Memperbanyak langkah ke masjid menunjukkan komitmen seorang hamba terhadap shalat berjamaah.


Setiap langkah yang ditempuh tidak sia-sia, karena Allah mencatatnya sebagai pahala dan penghapus kesalahan. 


Semakin jauh jarak yang ditempuh dengan niat ibadah, semakin besar pula ganjaran yang dijanjikan. Ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk tidak bermalas-malasan dalam memenuhi panggilan Allah.


Adapun menunggu shalat setelah shalat lainnya disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai ribat. Istilah ini biasanya digunakan untuk orang yang berjaga di medan perang, namun dalam konteks ibadah, ia menggambarkan kesungguhan menjaga ketaatan dan konsistensi dalam beribadah. 


Menunggu shalat berarti menjaga hati tetap terikat dengan masjid dan dzikir kepada Allah.


Melalui hadis ini, umat Islam diajak untuk memakmurkan masjid dan menjadikan shalat sebagai pusat kehidupan. 


Langkah-langkah kecil menuju masjid sejatinya adalah langkah besar menuju ampunan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. 


Semoga kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam memakmurkan masjid dan menjaga ibadah hingga akhir hayat. Aamiin.



Previous PostPostingan Lama Beranda