Di ruang kelas, Dwi Jatmiko menempatkan Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah sistem yang utuh.
Sistem ini dirancang untuk membina dan mengembangkan potensi jasmani serta rohani peserta didik secara seimbang.
Al-Qur’an dan Hadis menjadi fondasi utama, bukan hanya sebagai sumber hukum, tetapi juga sebagai pedoman etika, moral, dan cara pandang hidup.
Pendidikan, dalam konteks ini, diposisikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya.
Namun, Dwi Jatmiko tidak berhenti pada teks.
Ia menekankan pentingnya ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta, sebagai dasar pengembangan keilmuan Pendidikan Agama Islam.
Menurutnya, alam bukan sekadar objek kajian sains, melainkan ruang tafakur yang memperkuat iman dan kesadaran spiritual.
Dari fenomena alam, peserta didik diajak membaca keteraturan, keseimbangan, dan nilai tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Pendekatan ini dinilai relevan di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi, krisis moral, dan pergeseran nilai sosial.
Pendidikan Agama Islam, kata Dwi Jatmiko, harus hadir sebagai jawaban, bukan sekadar pelengkap kurikulum.
Ia perlu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, sikap moderat, serta kepekaan sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Dengan mengintegrasikan Al-Qur’an, Hadis, dan ayat-ayat kauniyah, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Pendidikan, pada akhirnya, menjadi jalan untuk menautkan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas peradaban.





